Production Peformance Analysis

Production Peformance Analysis


Production Performance Analysis perlu untuk mengetahui performansi dari suatu operasi bisnis untuk memberikan indikasi dari keefektifan dan efisiensi dari pekerjaan yang telah diselesaikan.
Production Performance Analysis, yang mana cara melakukan analysis dapat dilakukan dengan komparasi sebagai berikut:

     1.  Membandingkan hasil proses produksi actual dengan yang di rencanakan pada periode yang sama dalam perusahaan yang sama
     2.   Membandingkan hasil proses produksi pada periode yang berbeda dalam perusahaan yang sama.
     3.    Membandingkan antara perusahaan yang berbeda dengan periode yang sama.

Dalam melakukan Production Performance Analysis dilakukan dengan membandingkan tiga perhitungan yaitu PEU (Productivity Efficiency Utilization). Parameter dari PEU yaitu Plan Gain Manhours (PGMH), Available Manhours (AMH) dan Actual Manhours (ACMH)).
Productivity  = Efficiency x Utilization.
PGMH/AMH = PGMH/ACMH x ACMH/AMH.
PGMH merupakan Manhours yang diplanningkan untuk melakukan suatu pekerjaan,
AMH merupakan waktu pekerja dalam satu hari.
ACMH merupakan waktu efektif dari suatu pekerja hingga selesai.
Sebagai ilustrasi, Jika satu pekerjaan STABILIZER TRIM RESTORATION yang misalkan di planning oleh planner berdasarkan document MPD dibutuhkan 6 MH yang berarti PGMH, Dimisalkan pekerjaan ini dilakukan oleh A yang ternyata dikerjakan oleh si A 8 MH yang berarti ini merupakan ACMH. Yang jika diasumsikan satu hari dikatakan jam kerja 8 jam setelah dikurangi waktu istirahat dan dikurangi waktu mempersiapkan tool dan equipment dan lainnya. Maka 2 jam (actual pengerjaan 4 Jam) berikutnya dihitung lembur.

Productivity Mekanik A = PGMH / AMH = 6 / (8+4)  x 100 % = 50 %
Efficiency Mekanik A = PGMH / ACMH = 6 / (8) x 100 % = 75 %
Utilization Mekanik A = ACMH / AMH = 8 / 12 = 66,6 %

Deviasi dari hasil proses produksi.

Deviasi merupakan suatu informasi yang bermanfaat untuk dapat melihat keberhasilan dan juga sebagai parameter apakah suatu proses bisa di improvisasi atau tidak, berikut gambaran bagaimana memanfaatkan deviasi untuk improvisasi suatu proses:

PT A
Melakukan suatu proses produksi dengan durasi waktu:

15 Hours
21 Hours
12 Hours
10 Hours
2 Hours
Jika di rata ratakan 12 Hours
PT B
Melakukan suatu proses produksi dengan durasi waktu:

14 Hours
12 Hours
12 Hours
12 Hours
10 Hours
Jika di rata ratakan 12 Hours


Dengan sedikit bantuan excel akan di dapatkan Deviasi PT A = 6.9 PT B = 1.4

Gambar Perhitungan Standar Deviasi Manhours dengan Excel

Dari deviasi ini dapat penulis simpulkan:

     1.       PT B dapat menentukan Turnarround Time yaitu 12 sehingga PT A dapat dikatakan jika mendapat proyek maka PT B akan melakukan tepat waktu
     2.       PT A jika melakukan suatu projek berpotensi mengalami keterlambatan karena adanya deviasi yang tinggi
     3.       PT B bisa dikatakan sudah melakukan standarisasi dalam prosesnya dan telah dilakukan improvisasi
     4.       PT A bisa melakukan proses yang berkemungkinan lebih cepat dari PT B jika melakukan improvisasi pada proses produksinya karena pada suatu waktu mereka dapat melakukan proses dalam waktu 2 Hours, Atau bisa jadi ada nya kesalahan data perhitungan Turnarround Time PT A.

Setelah melakukan improvisasi suatu proses dan memperkecil deviasi dari suatu proses maka proses tersebut bisa dijadikan suatu standard untuk melakukan proses produksi produk tersebut.

Secara urutan berikut Metodologi melakukan improvement:

      1.       Pendefinisian
      2.       Pengukuran
      3.       Analisa 
      4.       Kegiatan Improvement hasil analisa
      5.       JIka  berhasil distandarisasi.

Demikian pembahasan salah satu fungsi production dan planning control yaitu Production Performance Analysis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maintenance Repair Overhaule

Material Planning